Selamat membaca!
Ketika bicara tentang umroh keluarga premium, banyak orang mungkin akan langsung berpikir tentang fasilitas.
Hotel yang bagus.
Lokasi yang dekat.
Transportasi yang nyaman.
Pelayanan yang lebih eksklusif.
Semua itu tentu penting.
Tetapi ketika saya ditanya, “Menurut Amayya, apa sebenarnya Umroh Keluarga Premium itu?” jawaban saya sederhana:
“Yang premium itu adalah keluarganya.”
Umrohnya sendiri biasa. Yang membuatnya menjadi premium adalah bagaimana kita memperlakukan keluarga yang menjalankannya.
Yang Premium Itu Keluarganya
Saya memilih fokus pada premium family umroh bukan karena saya ingin membuat umroh terlihat lebih mewah. Umroh bisa dilakukan oleh siapa saja. Bisa sendiri, bersama pasangan, keluarga, atau melalui travel.
Namun ketika kita berbicara tentang keluarga, ada sesuatu yang berbeda.
Ada ayah, ibu, anak, ada orang tua yang sudah lanjut usia atau mungkin juga ada tiga generasi yang berangkat bersama.
Mereka datang sebagai satu keluarga, tetapi masing-masing memiliki kebutuhan yang berbeda.
Bagi saya, di situlah cara pandang terhadap sebuah perjalanan keluarga harus berubah.
Saya tidak ingin melihat mereka hanya sebagai jamaah yang datang dalam satu rombongan. Saya ingin melihat mereka sebagai keluarga yang harus kami kenal dan kami jaga.
Karena itu saya sering menggunakan kata precious, nukan sekadar valuable. Sesuatu yang valuable bisa dinilai, tetapi sesuatu yang precious kita jaga karena memiliki arti.
Dan ketika sesuatu kita anggap precious, cara kita memperlakukannya tentu berbeda. Kita akan lebih memperhatikan, mengenal, dan berhati-hati dalam mempersiapkannya.
Itulah cara saya memahami kata premium.
Premium Tidak Berhenti pada Fasilitas
Saya tidak mengatakan fasilitas tidak penting. Tentu fasilitas harus baik. Hotel, transportasi, jarak, kenyamanan, dan berbagai kebutuhan perjalanan tetap harus dipersiapkan dengan serius.
Tetapi menurut saya, premium tidak berhenti pada fasilitas. Sebab kalau premium hanya ditentukan oleh fasilitas, maka yang kita bicarakan hanyalah apa yang kita berikan.
Padahal bagi saya, yang lebih penting adalah bagaimana kita memberikan dan mendampingi perjalanan tersebut.
Ketika sebuah keluarga datang kepada Amayya, kami tidak cukup hanya mengetahui jumlah jamaahnya.
Kami ingin tahu siapa yang ikut.
Bagaimana kondisi orang tuanya.
Bagaimana anak-anaknya.
Apa yang mereka butuhkan.
Apa yang perlu dipersiapkan.
Dan apa yang bisa kami lakukan agar perjalanan mereka berjalan lebih nyaman. Lantaran kebutuhan setiap keluarga tidaklah sama.
Karena Itu Kami Melakukan Profiling
Bagi saya, profiling bukan sekadar mengumpulkan data jamaah. Profiling adalah cara kami memahami keluarga yang akan kami dampingi.
Kami ingin mengetahui kebutuhan dan keinginan mereka, siapa yang menjadi teman perjalanan, serta hal-hal yang perlu mendapatkan perhatian selama perjalanan.
Dari situ kami bisa mempersiapkan pelayanan dengan lebih tepat. Karena standar pelayanan Amayya sendiri sederhana: jamaah harus nyaman, tenang, dan terbimbing.
Nyaman berarti kebutuhan perjalanan mereka dipersiapkan dengan baik. Tenang mereka tidak perlu terus memikirkan hal-hal yang seharusnya sudah kami bantu.
Dan terbimbing mereka tahu apa yang akan mereka lakukan dalam perjalanan ibadahnya.
Jadi bagi kami, profiling bukan sekadar prosedur sebelum keberangkatan. Profiling adalah awal dari cara kami mendampingi setiap keluarga.
Setiap Keluarga Memiliki Kebutuhan yang Berbeda
Keluarga bukan satu orang. Di dalam satu keluarga bisa ada pasangan, anak-anak, orang tua, bahkan tiga generasi yang melakukan perjalanan bersama. Kebutuhan mereka tentu tidak selalu sama. Orang tua mungkin membutuhkan perhatian terhadap mobilitas. Anak-anak membutuhkan persiapan yang berbeda.
Keluarga yang membawa bayi memiliki kebutuhan tersendiri. Karena itu, kami tidak menggunakan satu pendekatan untuk semua keluarga.
Kami perlu memahami siapa yang berangkat bersama mereka dan apa yang perlu dipersiapkan. Bagi saya, inilah salah satu bentuk nyata dari pelayanan yang personal.
Bukan sekadar memberikan layanan yang sama kepada semua jamaah, tetapi menyesuaikan pendampingan dengan siapa yang sedang kita dampingi.
Kami Ingin Hubungan Itu Tidak Berhenti di Tanah Suci
Ada satu hal lagi yang penting bagi saya.
Ketika seseorang berangkat bersama Amayya, saya tidak ingin hubungan itu berhenti ketika perjalanan umrohnya selesai.
Saya ingin setiap jamaah yang datang kepada Amayya merasa menjadi bagian dari keluarga kami. Karena itu, kata keluarga di Amayya tidak hanya berarti keluarga yang memiliki hubungan darah.
Orang yang melakukan perjalanan bersama Amayya juga menjadi bagian dari keluarga Amayya.
Bagi saya, hubungan seperti ini dibangun dari kepercayaan. Dan kepercayaan tidak cukup dibangun melalui fasilitas atau janji pelayanan.
Kepercayaan tumbuh ketika kita hadir, mengenal, mendengarkan, dan mendampingi.
Itulah hubungan yang ingin kami bangun bersama jamaah Amayya.
Saya Tidak Ingin Jamaah Berjalan Sendirian
Membawa keluarga ke Tanah Suci berarti membawa banyak kebutuhan sekaligus. Apalagi ketika di dalamnya ada orang tua, anak-anak, atau anggota keluarga dengan kebutuhan khusus.
Karena itu, saya tidak ingin jamaah Amayya merasa harus memikirkan semuanya sendiri. Kami ingin hadir untuk mendampingi.
Bukan mengambil alih pengalaman ibadah mereka, tetapi membantu menyiapkan hal-hal yang memang menjadi bagian dari tanggung jawab kami sebagai travel.
Kami juga menyediakan ruang untuk duduk bersama, berbicara, dan mendengarkan apa yang dirasakan jamaah selama perjalanan.
Bagi saya, mendampingi bukan hanya soal memastikan itinerary berjalan. Ada saat ketika jamaah membutuhkan informasi.
Ada saat ketika mereka membutuhkan bantuan. Dan ada saat ketika mereka hanya membutuhkan seseorang yang hadir dan mau mendengarkan.
Semua itu bagian dari pelayanan.
Cara Kami Melayani Harus Berbeda
Pada akhirnya, memilih menjadi spesialis umroh keluarga bukan hanya tentang memilih segmen pasar. Ini adalah cara kami memutuskan bagaimana kami ingin melayani.
Kalau sebuah keluarga datang kepada kami dengan Ayah, Ibu, anak-anak, atau bahkan tiga generasi sekaligus, maka kami tahu bahwa yang kami dampingi bukan sekadar satu kelompok jamaah dengan kebutuhan yang sama.
Ada orang-orang dengan kondisi, kebutuhan, dan harapan yang berbeda. Karena itu kami harus mengenal mereka sebelum berangkat, mempersiapkan kebutuhan mereka, dan hadir ketika mereka membutuhkan pendampingan.
Bukan karena kami ingin membuat perjalanan terlihat lebih mewah.
Sebab, kami percaya setiap keluarga yang menitipkan perjalanan ibadahnya kepada kami layak mendapatkan perhatian yang sungguh-sungguh.
Itulah yang ingin kami bangun di Amayya.
Sebuah perjalanan ibadah yang tidak hanya tertata dari sisi perjalanan, tetapi juga terasa lebih personal dalam pendampingannya.
Karena bagi saya, pada akhirnya premium bukan tentang seberapa banyak yang bisa kita berikan.
Premium adalah tentang seberapa sungguh-sungguh kita menjaga apa yang dipercayakan kepada kita.
Dan ketika yang dipercayakan kepada kita adalah sebuah keluarga, maka tanggung jawab itu menjadi jauh lebih berarti.













